Tuesday, 9 June 2015

Kiat Orang Tua Menyikapi Kepribadian Anak

Anak yang introvert memiliki  kecenderungan untuk menarik diri dari lingkungan sosialnya. Sikap dan keputusan yang  diambil untuk melakukan sesuatu biasanya didasarkan pada perasaan, pemikiran, dan pengalamannya sendiri. Mereka, anak anak introvert biasanya pendiam dan merasa tidak butuh orang lain karena merasa kebutuhannya bisa dipenuhi sendiri.

Berbeda dengan anak yang ekstrovert, anak yang ektrovert memiliki kecenderungan untuk mengarahkan perhatiannya  keluar dirinya. Sehingga segala sikap yang dilakukan dan keputusan diambilnya adalah berdasarkan pada pengalaman-pengalaman orang lain. Mereka cenderung ramah, terbuka, aktif dan suka bergaul. Anak ekstrover selalu merasa nyaman untuk beradaptasi dengan lingkungan dan selalu terlihat ceria.

Introvert dan ekstrovert adalah merupakan reaksi seorang anak anak terhadap sesuatu. Namun, jika reaksi tersebut ditunjukkan terus menerus, maka akan  dapat berubah menjadi sebuah kebiasaan, dan kebiasaan tersebut akan menjadi bagian dari tipe kepribadiannya.

Menurut pakar psikolog bahwa memang idealnya seorang anak memiliki kepribadian yang seimbang, yaitu memiliki dua kecenderungan ini yaitu introvert dan dan ekstrovert. Ingin tau mengapa alasanya? Karena dengan memiliki kecenderungan ini, kebutuhan seorang anak terhadap privasinya dan juga hubungan sosialnya secara simultan akan terpenuhi.

Tugas yang harus dilakukan oleh para orangtua disini tidaklah mudah, dimana orang tua dituntut untuk sebisa mungkin memberi cara dan mencari jalan keluar kepada si anak agar bisa dan mampu keluar dari  kepribadiannya. Yang perlu diingat adalah, orang tua hendaknya mengarahkan bukan memerintah secara instant lalu anak yang ekstrovert dengan sendirinya berubah menjadi anak yang periang, terbuka dan mudah bergaul. Jangan pernah memaksakan anak untuk merubah karakternya, karena ini akan semakin membuat anak menjadi tertekan. Jika perasaan tertekan ini tidak terakumulasikan maka si anak tidak makin membaik tapi justru sebaliknya malah membuat anak menjadi stres.

Dalam keadaan tertentu anak introvert membutuhkan support atau dukungan dari orang lain yang dalam hal ini adalah keluarga tentunya.  Pada dasarnya kepribadian seseorang itu dipengaruhi oleh dua faktor yakni hereditas (keturunan) serta lingkungan. Menurut seorang psikolog bahwa secara psikologi, anak yang memiliki kecenderungan interovert adalah menurun dari sifat keluarganya atau akibat faktor lingkungan. Namun dengan memberi dukungan moril supaya sifat introvertnya berangsur-angsur berkurang.

Anak ekstrovert  akan merasakan indahnya “hidup” dengan kehadiran orang lain, dan akan layu serta kehilangan keindahan hidup  serta kecemerlangan mereka jika sendirian. Sebaliknya anak yang introvert  akan terlihat  nyaman  dengan dirinya sendiri dan dalam kesendirian, justru introvert akan merasa tertekan dan sangat tidak nyaman dengan kehadiran orang lain.

Introvert tidak hanya identik dengan  pemalu. Namun lebih dari itu dia merasa cemas, takut, dalam lingkungan sosial. Bahkan  berinteraksi dengan orang lain itu melelahkan bagi para introvert.
Ajak anak bercerita tentang pengalamannya di sekolah, bagimana teman2nya apa saja kegiatannya ketika jam istirahat, bebaskan anak ber-argumentasi dan menceritakan apa yang tengah dirasakannya. dengan demikian anak merasa nyaman. 



Ajak anak introvert bersilaturahmi dengan kerabat juga sahabatnya, beri contoh untuk mengaktualisasikan apa yang ada dalam pikirannya, ajak bermain dengan lingkungan dimana tinggal, ke taman bermain umum pun boleh juga agar dia mengenal dan berinteraksi dengan sesama pengunjung.

No comments:

Post a Comment