Wednesday, 6 May 2015

Marah pada anak..dampak negatif dan tipsnya

Pengaruh Buruk Kemarahan Orang Tua Terhadap Sikap Anak

TERIAKAN bocah malang itu tidak juga menghentikan gerakan tangan sang ayah untuk berhenti memukuli tubuh ringkihnya. Barulah setelah tubuh itu diam tak bergerak, kesadaran si ayah langsung pulih. Apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur, nyawa pun melayang sia-sia.

Itu bukan cerita rekaan, tapi benar terjadi Desember 1984. Kasus penganiayaan terhadap Arie Hanggara yang dilakukan ayahnya, menjadi cerita memilukan. Bahkan sempat diangkat ke layar perak.

Arie menjadi korban kekerasan ayahnya yang menyebabkan nyawanya melayang. Ternyata Arie bukan anak terakhir yang mengalami nasib memilukan ini. Penyiksaan anak (child abuse) malah terjadi sepanjang tahun. Bahkan UNICEF pada 2003 melansir laporan sebanyak 3.500 anak berusia kurang dari 15 tahun tewas setiap tahun akibat perlakukan kejam.

Riset yang dilakukan UNICEF di beberapa negara itu juga menunjukkan tingkat kekerasan yang berakhir dengan kematian terjadi di negara-negara kawasan Amerika, Eropa, Pasifik, tergolong tinggi, seperti di AS, Meksiko, Portugal, Belgia, Ceko, Hongaria, Prancis, dan Selandia Baru. Namun Spanyol, Yunani, Italia, Irlandia, dan Norwegia justru tergolong rendah.

Dari temuan UNICEF, ada dua faktor penyebab terjadinya kekerasan terhadap anak. Pertama, stres dan kemiskinan. Kemudian rumah tangga yang kerap diwarnai kekerasan antara suami dan istri.

Bentuk kekerasan yang tidak tepat bisa berpengaruh buruk pada anak dalam jangka panjang. Makian kasar seperti “dasar anak sial” atau “dasar anak nakal” akan terekam kuat dalam diri si anak.

Anak yang sering dimarahi orang tuanya, apalagi diikuti dengan penyiksaan, cenderung meniru perilaku buruk (coping mechanism) seperti bulimia nervosa (memuntahkan makanan kembali), penyimpangan pola makan, anorexia (takut gemuk), kecanduan alkohol dan obat-obatan, dan memiliki dorongan bunuh diri.

“Marah merupakan hal yang normal, tapi kemarahan yang tidak tepat bisa memengaruhi kondisi psikis dan fisik anak,” ujar psikolog dari Jagadnita, Diah P Paramita dalam acara bertajuk ‘Seni bertengkar sehat dengan anak’ di Jakarta, Sabtu (30/8).

Sedangkan psikolog dari Medicare Clinic Anna Surti Ariani menambahkan, tindakan seperti mencubit atau memukul sedapat mungkin dihindari, karena sama sekali tidak perlu. “Asalkan menguasai teknik-teknik mendisiplinkan anak, 50% kenakalan anak akan teratasi,” katanya.

Menurut Nina, begitu ia disapa, mendisiplinkan anak balita harus secara konkret, seperti menunjukkan wajah cemberut. Pada usia ini mereka cenderung meniru. Hal ini sesuai dengan perkembangan kognitif anak. Sedangkan pada anak usia SD disarankan menggunakan metode broken record (piringan hitam rusak). “Ibarat piringan hitam rusak, ucapkan apa yang diinginkan orang tua berulang-ulang,” jelas Nina.

Diah pun menambahkan, marah yang bertujuan untuk mendidik dan memperbaiki kesalahan-kesalahan agar perbuatan serupa tidak terulang lagi. Kemarahan yang diekspresikan secara tidak tepat, akan memengaruhi kemampuan orang tua dalam menerapkan disiplin dan memengaruhi hubungan orang tua dengan anak.

Marah yang diikuti pemukulan menimbulkan luka batin, benci terhadap orang tua, rendah diri, antisosial, dan suka berkelahi. “Anak-anak suka meniru, kalau dipukul akan balas memukul. Selain itu memukul tidak mengubah perilaku,” sambung Diah.

Child Right Information Network–sebuah organisasi yang peduli pada nasib anak-anak– memaparkan pemukulan terhadap anak-anak (baik dengan tangan, ikat pinggang, tongkat, atau sepatu), menendang, melempar, mengguncang-guncangkan tubuh anak, mencakar, menggigit, menyuruh anak diam dalam posisi yang membuatnya tidak nyaman, bila terjadi di Eropa dapat dikenai tuduhan melakukan tindakan kriminal. Austria, Denmark, Finlandia, Islandia, Jerman, Norwegia, dan Swedia memiliki UU yang melarang keras penyiksaan fisik terhadap anak-anak.

Kekesalan orang tua bisa berdampak pada anak. Maka dari itu, orang tua harus menyelesaikan masalahnya lebih dulu. Menurut Diah, orang tua bisa mengikuti terapi untuk mengatasi kemarahan di masa lalu.

Selanjutnya melakukan identifikasi masalah di masa lalu. “Anak yang ibunya sering sekali marah akan sulit untuk disiplin,” tegasnya.

Dalam dialog tersebut juga terungkap bahwa anak yang dekat dengan orang tuanya akan jarang marah. Bila hubungan itu harmonis dan akrab, orang tua lebih mengenal karakter anak sehingga dapat menghindari kondisi pemicu pertengkaran. Diah menyarankan menarik napas setiap kali hendak marah. “Kondisikan diri untuk tidak memerhatikan hal-hal kecil yang bisa membuat marah.”

Agar hubungan orang tua-anak harmonis tingkatkan pendekatan dengan melakukan kegiatan bersama. Kemudian memberi contoh/sikap yang baik bisa meningkatkan rasa percaya diri. Meluangkan waktu untuk bermain bersama, dan memberikan tanggung jawab, membuat anak merasa spesial. “Ajak anak menyiram tanaman biarkan anak memegang selang air,” jelas Diah memberi contoh.

Selain hal yang diungkapkan di atas, Diah menyarankan orang tua menjalin komunikasi nonverbal. Yakni melakukan kontak mata saat berbicara, sikap tubuh sejajar saat berbicara (sambil duduk atau jongkok), rendahkan nada suara, berikan pelukan dan sentuhan lembut pada kepala sebagai tanda berbaikan usai memarahi.

Kita hidup di jaman serba sulit akibat tekanan hidup yang terus bertambah dari hari ke hari.  Kenaikan harga barang pokok, kemacetan, pekerjaan yang tiada habisnya, bos yang pelit, dan masih banyak lagi hal-hal yang membuat kita merasa putus asa, marah dan kehabisan tenaga saat harus kembali ke rumah dan melakukan tugas sebagai orang tua.
Namun adilkah jika kita menjadikan anak-anak sebagai sasaran empuk rasa marah kita saat mereka melakukan beberapa kesalahan yang sebenarnya sederhana?  Bagaimana cara kita mempertahankan kesadaran untuk tetap tenang meski rasa marah sudah memuncak hingga ke ubun-ubun?

1) Tetap fokus pada akibat

Jika anak Anda terus membangkang terhadap perintah Anda, mundurlah sejenak dari ‘pertarungan’ dan ambil nafas dalam-dalam. Anda dapat keluar dari rumah untuk beberapa menit dan berusaha untuk memfokuskan diri serta meredam rasa marah Anda.
Saya tahu nampaknya hal ini sederhana, tapi sering kali berhasil. Intinya, jangan sampai rengekan, tangisan dan rasa marah anak mempengaruhi Anda. Ingat, Anda adalah orang tuanya. Anda telah menetapkan peraturan demi kebaikan anak-anak, dan telah mensosialisasikan semua peraturan itu pada mereka.
Ketika Anda telah merasa lebih tenang dan siap berkonfrontasi dengan anak Anda, berikan hukuman sebagai konsekuensi tingkah laku mereka. Jangan berikan hukuman lebih berat dari yang telah Anda tetapkan hanya karena Anda merasa sangat marah.
Misalnya, mengapa harus membentak anak hanya karena mereka menumpahkan susu di lantai? Perintahkan mereka untuk membersihkan tumpahan susu hingga bersih, dan Anda tak perlu membuang energi untuk mempertahankan rasa marah Anda.

2) Minta bantuan

Umumnya para ibu akan mengalami kurang tidur dan istirahat saat mereka mempunyai anak yang berusia kurang dari 3 tahun. Jangan ragu untuk meminta bantuan dari orang tua, mertua atau rekan terdekat seandainya mereka bersedia menjaga anak Anda sementara Anda berisitirahat.
Kita di Indonesia sangat beruntung karena hubungan antar keluarga dan juga antar tetangga masih terjalin kuat. Sehingga tidak sulit untuk minta bantuan dari mereka saat kita membutuhkannya.
O ya, selain beristirahat Anda dapat berjalan-jalan atau berolah raga ringan agar kembali bugar dan membuang rasa marah jauh-jauh sebelum kembali ke medan ‘perang’.

3) Jadwalkan waktu ‘berkencan’ dengan pasangan

Kadang kala kita terlalu sibuk menjadi orang tua, dan melupakan pasangan kita. Tugas dan tanggung jawab sebagai orang tua telah menyita sebagian besar dari waktu kita dan membuat kita mengabaikan kebutuhan pasangan.
Beberapa dari orang tua kadang merasa sangat marah pada anak, sehingga tanpa sadar kita membayangkan hari-hari Anda dan pasangan sebelum anak-anak lahir.
Ada baiknya Anda dan pasangan meluangkan waktu untuk berdua tanpa anak-anak. Hal ini akan membuat Anda kembali merasa dekat dengan pasangan, dan saat pulang ke rumah Anda dapat menghargai keberadaan anak-anak dan tidak merasa bahwa mereka telah memonopoli hidup Anda secara keseluruhan.

4) ‘Badai pasti berlalu’
Ya, rasa marah adalah sebuah bentuk dari emosi, namun perasaan itu akan makin menjadi bila Anda melulu memikirkannya. Misalnya, Anda marah karena anak membuat Anda merasa terganggu.
Anda berpikir bahwa anak Anda sangat egois dan tidak memahami bahwa Anda sedang merasa sangat lelah setelah bekerja seharian. Lalu Anda akan mencari alasan lain untuk membenarkan kemarahan Anda, bahkan menyangkutpautkannya dengan hal-hal yang tak ada hubungannya.
Semakin Anda memikirkan rasa marah Anda, semakin panas terasa di dada. Jadi, cobalah lakukan yang sebaliknya. Begitu Anda merasa marah, katakan pada diri Anda bahwa, “Ya saya marah, tapi saya akan rileks dan tenang. Ini bukanlah hal besar. Saya mampu menghadapinya.”
Carilah ungkapan yang tepat untuk dikatakan pada diri Anda sendiri ketika sedang marah, yaitu suatu ungkapan yang dapat menjauhkan Anda dari rasa marah. Kalau saya sih cukup dengan, “badai pasti berlalu.”

5) Mengelola aspek spiritual

JIka Anda merupakan pemeluk suatu agama, ada baiknya jika Anda meluangkan waktu untuk beribadah dan bermeditasi sesuai dengan ajaran agama masing-masing. Semua agama mengajarkan cara-cara untuk merasa lebih baik dan tenang.
Hal ini akan membantu Anda untuk membangun perspektif yang seimbang dalam memandang kehidupan. Sehingga dalam kondisi apapun, rasa marah tidak akan mudah menyerang Anda. Banyak membaca buku motivasi juga dapat membantu Anda berpikir dua kali sebelum amarah membutakan penilaian Anda.
Benjamin Franklin mengatakan, “Amarah tidak pernah terjadi tanpa alasan, tapi alasan itu sering kali tidak tepat.” Begitu kita sudah mengetahui alasan di balik rasa marah kita (kadang-kadang bukan kebiasaan buruk anak yang membuat kita marah, tapi ada kejadian tak mengenakkan di tempat kerja dan kita membawa suasana hati yang tidak enak itu pulang), maka kita akan dapat mengatasinya dengan baik.
Berusahalah untuk mengelola amarah dengan efektif/ tepat karena anak-anak kita tidak layak dijadikan pelampiasan. Anda toh juga tidak mau berada pada posisi itu bukan?



 

No comments:

Post a Comment